Liputan harian RADAR BOGOR SELASA 12 MEI 2009

Usaha karpet Seno dan Maryati bisa sukses karena kejelian mereka melihat peluang. Hal itu ditularkannya kepada pelanggan yang juga ingin sukses berjualan karpet.

Setelah sukses berjualan karpet di Pemda Cibinong, Seno dan Maryati mendirikan usaha di Pasar Citeureup. Toko yang mereka dirikan disukai banyak orang. Pembeli berdatangan hingga penuh sesak.

“Toko pertama Buana Karpet ada di Pasar Citeureup lama, buka tiga tahun. Karena pembeli sangat banyak, akhirnya pindah di Mitra Karpet ini. Toko yang ini baru beroperasi empat bulan,” jelas Seno.

Pengunjung datang dari berbagai daerah.  Seperti dari Depok, Banten, Cikarang, Karawang dan Bogor. “Sebagian besar mereka adalah pedagang yang akan menjual kembali karpet itu,” katanya. Karpet itu dipasok dari pabriknya di Gunungputri. Sebelumnya Seno mengambil karpet dari Jakarta.

Maryati menambahkan, orang yang tidak punya pengalaman menjual karpet akan kesulitan pada awalnya. “Tapi kalau sudah tahu dan terlatih bagaimana cara memasarkan karpet, akan bisa mengembangkan usaha ini,” katanya.

Ia tak keberatan jika banyak orang yang mengikuti jejaknya berbisnis karpet. Bahkan ia mengaku bangga bisa mengajak mereka sukses.

“Saya tidak mau egois, saya juga ingin orang lain berhasil. Saya dulu pilih berjualan karpet dibandingkan sembako dan baju karena mudah dijual dan keuntungannya lumayan,” kata Maryati.

Saat ini toko yang mereka kelola bisa menjual hingga 600 unit setiap bulan. Dari jumlah itu yang paling diminati adalah karpet model Persia dan Belgia.

 Salah satu merek yang disukai adalah Extacy dengan harga jual Rp350.000 untuk ukuran 2,4 m x 1,7 m. Penjualan karpet di Pemda Cibinong saat ini diteruskan anak Seno dan Maryati. “Saya sudah kewalahan, jadi fokus mengurus toko ini,” pungkas Maryati.(*)

(Yulianti Tantina)

Dimuat pada harian RADAR BOGOR SELASA 12 MEI 2009